[Blogtour] Last Journey by Kezia Evi

Sabtu, 02 Januari 2016


Hei ho! Hari pertama di 2016, ketemu lagi dengan saya di blogtour kali ini. Gimana? Gimana? Belum bosan kan dengan blogtour yang hadir di blog ini? Belum dong~ Udah siap buat ikutan? Harus siap dong! Jadi, hari pertama di 2016 ini, mari awali dengan semangat mengikuti Blogtour Last Journey, buku karya Kezia Evi Wiadji.
Yang sudah sering ikutan Blogtour atau Giveaway di blog ini, pasti udah tahu beberapan aturannya. Kali ini beberapa aturan dan persyaratannya tetap sama kok. Berikut terlampir:
  1. Peserta berdomosili di Indonesia atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
  2. Peserta adalah followers dari @KeziaEviWiadji di twitter.
  3. Like fanpage Kezia Evi Wiadji di facebook.
  4.  Follow blog ini via apa pun, mau via email, GFC, atau G+.
  5.  Share info Giveaway melalui twitter dengan mention @KeziaEviWiadji dan @Lovaren_
  6. Tinggalkan komentar di Review Last Journey
  7. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan menuliskan nama dan akun twitter.
Periode Blogtour &  Giveaway:
  1. Periode blogtour & giveaway adalah 6 hari, mulai tanggal 01 Januari 2016 sampai 06 Januari 2016.
  2. Pemenang akan diumumkan pada Minggu, 10 Januari 2016 melalui blog dan juga akan dimention melalui twitter.
Jadi, berikut pertanyaannya:



"Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

Satu orang beruntung akan mendapatkan buku Last Journey dan gantungan kuncinya ^^ Saya tunggu keikut sertaan kalian ya! Dan, selamat tahun baru ^^

37 komentar:

  1. Nama: Rizkiana Hidayati
    Akun Twitter: @rizkhdyt8

    "Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Awalnya pasti aku akan kaget, putus asa dan pikiran akan di penuhi oleh pikiran pikiran negatif. Bingung apa yang harus dilakukan bagaimana menghadapinya dan menjalaninya. Bagaimana cara menyikapi kenyataan bagaimana cara menerima takdir. Mungkin pertanyaan tersebut akan muncul jika aku di vonis mengalami sakit parah.
    Dan mungkin aku akan menyalahkan takdir, dan kehilangan semangat.
    Tapi aku akan berusaha bangkit dan mengingat "Ini hanya vonis dokter, bukan vonis tuhan". Aku akan berusaha menerima semuanya. Dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

    BalasHapus
  2. Bismillah, aku turut berpartisipasi yaa((: Wish me luck!
    Nama: Yuliani
    Twitter: @yulianipatty

    Jawaban: Aku tidak akan memberitahu terlebih dahulu kepada orang-orang yang aku sayangi, karena aku tidak mau melihat air mata orang yang aku sayangi jatuh hanya karena aku; penyakit yang aku derita. Sebisa mungkin aku akan bersikap baik-baik saja didepan mereka, karena aku yakin aku kuat aku bisa melewati ujian ini. Karena aku di didik menjadi anak yang mendiri sejak aku kecil. Aku yakin ada kebahagian dibalik semua itu. Dan jika mereka sudah tahu; orang-orang yang aku sayangi. Aku akan menyakinkan kepada mereka bahwa aku bisa melewati ujian ini, karena ada keluarga yang sangat menyayangiku. Aku berada ditengah-tengah keluarga yang mendukungku dalam hal apapun. Aku juga akan mengucapkan terimakasih karena sudah menjadi keluarga yang selalu mengerti keinginanku. Family, best i ever had. Lafyaa<3

    BalasHapus
  3. Nama: Fitra Aulianty
    Twitter: @fira_yoopies

    Jawaban:
    Perasaan awal itu merinding, masih berusaha nyerap kata-kata dokter. Malah karena mendadak lola, aku cuma melamun setelah dapat vonis itu, sambil mikir, dokter tadi bilang apa? Sakit apa? Siapa? Masa aku yang sakit?
    Setelah nyadar kalau beneran aku yang sakit parah, pikiran tetap nolak. Semoga gak, semoga si dokter salah orang. Ah pasti bener bukan aku, aku masih sehat-sehat aja kok. Walaupun dalam hati nyesal, kenapa gak jaga diri dari dulu?
    Pertentangan hati sama pikiran itu masih tetap ada sampai aku benar-benar nerima kenyataan. Mungkin setelahnya aku bakal konsul sama dokter, dan yang selanjutnya aku lakuin cuma bertawakal, semoga ada jalan keluarnya.

    BalasHapus
  4. ama: Tri Wahyuni
    Twitter: @tewtri

    Sakit parah bukan berarti mati kan? Dokter bukan Tuhan, dan jikapun hal itu terjadi saya pasti akan langsung menangis. Bukan karena sakit itu yang saya takuti, tapi saya khawatir kalau orang tua terutama ibu saya akan membunuh Dokter yang sudah berani-beraninya memvonis saya seperti itu. Jujur, saat saya jatuh sakit pun reaksi mereka lebih heboh di banding diri saya sendiri. Mungkin itu bentuk kepedulian mereka, jadi saya akan berusaha untuk tidak terlalu berlebihan dalam mengespresikan rasa kecewa demi mampu meredam sakit hati kedua orang tua. Percayalah semenyiksa apa pun sakit itu, asal bersama mereka saya tidak akan menyeal sudah hidup sampai akhir.

    BalasHapus
  5. Nama:Isyatur R
    Akun: @isya_sonmate

    Pertanyaan:
    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Jawab:
    Yang pasti hal pertama yang saya rasakan adalah kaget dan campur aduk antara sedih,pasrah,kecewa dan rasa tidak percaya. tetapi mungkin seiring pejalanan waktu ketika sakitku itu jika sakit benar-benar terasa nyata, aku akan mencoba pasrah pada keadaan yang terjadi. Tak boleh ada orang yang tau biar kurasakan sakit ini karena aku tak ingin membuat orang lain menangis melihat keadaanku yang menderita dan melemah

    BalasHapus
  6. Nama: Ulfa Nursyifa
    Akun twitter: @ulfaminha

    Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami sakit keras/parah?

    Itu buat aku speachless, ga nyangka, dan pasti ngerasa sedih bangeet. Mungkin beberapa hari ga akan bisa ngelakuin apa-apa kecuali hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Butuh waktu untuk menerima kenyataan yang pahit itu. Tapi aku akan berusaha untuk kuat. Aku harus bisa memanfaatkan sisa hidupku dengan baik, karena ketika divonis sakit keras, hal itu pasti mendekati kematian. Beberapa hal yang harus aku lakukan:
    1. Beribadah sesering mungkin; mendekatkan diri kepada Allah, agar bisa tenang, kuat, sabar dalam menjalani sisa hidupku.
    2. Aku ingin melihat keluargaku bahagia dan merasa bangga memilikiku. Salah satu cara aku berterima kasih kepada mereka, meski itu takkan mampu membalas apa yang telah mereka beri untukku.
    3. Aku ingin melakukan satu perbuatan baik yang mungkin gak akan pernah bisa dilupain, untuk mereka yang aku kenal. Bukan karena ingin dipandang baik, melainkan salah satu pengabdian hambanya kepada Sang Khalik dengan memperlakukan ciptaannya dengan baik. Juga untuk memberi kenangan yang terbaik. Dan salah satu cara untuk meminta maaf kepada mereka yang telah aku sakiti. Aku tidak ingin orang-orang menabur kebencian kepadaku di jejak hidup mereka.

    BalasHapus
  7. Nama: Kiki Suarni
    Twitter: @Kimol12

    Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?

    Jawaban:

    Kaget, gak percaya, marah dan nangis itu pasti. Kalo udah divonis seperti itu aku gak yakin bisa tegar tanpa nangis. It's imposible karena itu menyangkut nyawaku. Setelah itu aku gak akan kasih tau keluarga dulu. Aku coba pergi ke dokter lain untuk lebih meyakinkan. Jika memang hasilnya tetep sama, maka tahap selanjutnya adalah mencari informasi tentang penyakitku. Metode pengobatan terbaik apa yang bisa dilakukan. Dimana pengobatan terbaik untuk penyakit ini. Jika ada tempat pusat rehabilitasi untuk penyakit ini, maka aku akan datang ke tempat itu. Melakukan segala yang aku bisa untuk melawan penyakit ini.

    Setelah semua usaha terbaik telah maksimal aku lakukan, aku tinggal berserah diri kepada Allah. Beribadah, berdoa dan makin mendekatkan diri pada-Nya. Menjalani hidupku dengan sebaik-baiknya. Ikhlas menerima penyakit ini walau sulit tapi harus! Melakukan apa yang ingin kulakukan dalam hidup. Selalu berusaha bahagia dan berpikir positif.

    Wahh...drama bgt yak jawabannya hehe
    Terima kasih.

    BalasHapus
  8. Nama: Adelia Fitriani
    Akun Twitter: @AdelLFitria

    "Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Awalnya mungkin aku kaget, nangis atau menyalahkan takdir itu udah pasti.

    Tapi seiring berjalannya waktu aku harus menerima, ini keputusan tuhan juga takdir dari yg diatas.

    Masalah vonis itu benar atau tidaknya itu urusan nanti. Intinya aku berusaha menerima takdir, menjalaninya, membahagiakan orang2 disekitarku, menikmati waktuku yg mungkin sebentar. Bukan bersikap pasrah hanya seperti tadi, aku berusaha menerima takdir. Karna aku tau keputusan mutlak ada dipalu hakim yg maha luhur:)

    Wish me luck ^^ maafkan kalo ganyambung hehe

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Nama: Eka Sasining Putri
    Akun twitter: @cha_ichie

    Mungkin reaksi saya yang paling memungkinkan adalah tercengang. Tapi selebihnya saya tidak akan terkejut mengingat saya pribadi tidak merawat kesehatan tubuh saya dengan baik. Saya masih bandel minum es kopi sehari minimal dua kali dan makan yang pedes-pedes akut. Jadi saya tidak akan terlalu terguncang meski merasa menyesal juga.
    Setidaknya, saya tahu saya pasti telah melakukan hal yang salah hingga tubuh saya menderita kesakitan. Bukankah sakit keras/parah disebabkan sebuah alasan? Saya bersyukur telah diingatkan melalui vonis dokter meski terlambat sadar, saya bersyukur diberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Saya akan berusaha tidak mengecam Tuhan, atau merutuk takdir yang digariskan pada saya. Karena pada dasarnya hidup ini pilihan, saya yakin apa yang saya alami adalah konsekuensi dari hal yang saya lakukan. Bukannya berpikir dangkal bahwa penyakit itu adalah sebentuk hukuman, tapi saya lebih suka menyebutnya 'bayaran'.
    Bagi saya itu juga waktu yang tepat bagi saya untuk mawas diri, mengoreksi, sehingga tidak meninggalkan penyesalan dan rasa kecewa berlebih jika saya benar-benar mengidap penyakit yang telah divoniskan dokter. Saya bisa menikmati sisa hidup saya dengan lebih baik jika penyakit saya adalah akhir. Bagaimanapun, saya bersyukur telah diberikan rambu-rambu datangnya kematian.
    Namun sebagai tindakan positif, saya tidak akan menyerah semudah itu pada sebuah vonis. Saya masih sanggup menjalani perawatan atau pemulihan keadaan tubuh saya yang memburuk. Vonis dokter bukan berarti kartu penghakiman yang mutlak terjadi kan? Jadi selama masih bisa, saya akan menggenggam harapan saya untuk hidup lebih lama dengan berjuang, tidak peduli bersikap keras kepala karena ini adalah kehidupan dan nyawa saya. Masih ada kebahagiaan yang belum saya raih, jadi jika perlu saya akan menunda kematian dulu.

    BalasHapus
  11. Nama : esti
    Twitter : @estiyuliastri

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Reaksi awal mungkin syok & bengong. Tapi divonis sakit keras bukan berarti mati kan? Bukan berarti akhir dari segalanya!
    Jadi aku akan mencoba berpikir positif & memotivasi diriku sendiri, dan mungkin aku akan melakukan hal hal yang menyenangkan & bermanfaat untuk orang tuaku dan untuk diriku sendiri, agar tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
    Karna tidak ada gunanya apabila sakit parah harus disesali, karna semua sudah digariskan oleh Tuhan sejak kita masih di dalam kandungan.
    Hidup harus disyukuri, yang bisa kita lakukan adalah BERDAMAI DENGAN HATI & PIKIRAN, dengan berkeyakinan bahwa aku akan sembuh, serta berusaha untuk membuat bahagia orang-orang yang mencintai kita dengan segala keterbatasan yang dimiliki.
    Sekian :)

    BalasHapus
  12. Annik anzalni
    @annickajodha

    Pas d fonis penyakit parah yg pasti itu syok,kecewa, sedih..
    Tp itu kn g boleh berlarut"... mungkin aq akan menangis dalam beberapa jam.. atau menyendiri. Tp setelah itu tetap harus kuat. Bagaimana pun juga Kita harus menghadapinya kan. Jadi y sabar aja tabah, tawakal, berserah pada alloh. Hasil akhir kan yg menentukan alloh.

    BalasHapus
  13. Nama : Ismayanti Firdani
    Twitter : @ismaa1903

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Yg pasti awal.y aku gak terima. Aku bakal marah, nangis, ngamuk-ngamuk. Aku bakal mnjauh dri segalanya. Aku lebih suka sendiri, merenungi semuanya.

    Tapi seiring berjalannya waktu, disaat mungkin aku udah bisa nerima semuanya, aku bakal hadapin itu, berjuang melawan penyakit itu. Berusaha buat sembuh dan memanfaatkan tiap detik hidup dengan sebaik-baiknya.

    BalasHapus
  14. nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    akun twitter : @MukhammadMaimun

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Reaksiku saat divonis sakit keras/parah :
    1) bengong dan bertanya : " Ni saya yang salah dengar atau dokter yang bercanda nih ??" sambil ngetawain nasib.
    2) Tanpa menunggu jawaban dokter yang tak ingin kudengar, langsung cabut dan berkata pada diri sendiri : "oke, mungkin aku sakit keras/parah, tapi nurani ma hatiku ga sakit. akalku juga masih waras. kalau aku nyerah terus terpuruk, berarti aku kalah dalam permainan dan itu pasti bakal membuat penyakitku tambah parah..."
    3) Dokter masih manusia juga toh. Meski dia punya kelebihan dalam bidang kesehatan, tapi dia masih manusia juga. Jadi ayo, bangkit .... Kita balikkan prediksi.
    4) Ngaca barangkali selama ini penyakitnya datang dari aku. Aku masih suka jajan sembarangan, mbangkang ma ortu, apa saja aku makan, ga pernah sodaqoh, solat males, puasa banyak yang bolong. Aha, inilah titik baliknya.
    5) terus berpikir optimis. Kalau Allah SWT masih pengen aku hidup di dunia ini buat memperbaiki sikap dan ibadahku, barangkali ini cuma pengingat darinya. Tapi kalau Dia memang sayang padaku dan mengambilku saat itu juga karena penyakit itu, toh aku sudah berusaha menunjukkan ke Dia kalau aku ingin memperbaiki kekurangan-kekuranganku dan berharap masih sempat bertaubat sebelum ajal menjemput....

    BalasHapus
  15. Nama: Maggie
    Twitter: @Miieruu

    Reaksiku jika dokter memvonis aku mengidap penyakit parah ya? :"D

    Percaya atau tidak, aku sudah pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. *Memang pikiranku sering melantur* Jika sedang bosan, aku kadang berpikir bagaimana jika besok aku meninggal? Sehingga aku tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk meraih mimpiku??

    Mimpiku, untuk menjadi seorang penulis dan menerbitkan novel karyaku sendiri!!

    Aku hanya takut jika besok aku akan meninggal. Karena tidak mungkin kan menulis novel hanya dalam sehari?? Punya draft sudah jadi pun aku tetap harus menunggu respon penerbit. Karena aku tidak tahu setelah meninggal ada apa, dan aku tidak yakin dapat mengetahui perkembangan naskahku setelah meninggal (lol), aku lebih takut mati daripada divonis mengidap penyakit parah.

    Setidaknya, jika aku baru 'divonis', aku tidak akan mati besok kan? Mungkin sebulan, setahun, atau bahkan beberapa tahun lagi. Aku masih memiliki waktu untuk meraih mimpiku dulu! Dan, setelah aku berhasil meraih mimpiku, aku tidak takut lagi untuk mati ^^

    Jadi, reaksiku pastinya akan bekerja semakin giat, untuk setidaknya menuntaskan 'hutangku' pada dunia untuk meraih mimpiku sebelum meninggal. Sedih sih pasti sedih... Tapi yah, kurasa hal itu malah akan membuat novelku semakin keren karena kedalaman emosi di dalamnya! (gila) XD

    BalasHapus
  16. Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Jawab : Kaget tentu saja ketika mendengar vonis ini. Ada perasaan takut dan khawatir. Tapi tetap mencoba bersabar, mungkin inilah takdir yang telah ditetapkan Allah padaku. Skenario yang dibuat Allah itu yang terbaik, setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Sebagai seorang hamba, aku hanya bisa berpasrah, tapi tidak menutup kemungkinan tetap berusaha melakukan pengobatan. Untuk hasilnya diserahkan pada-Nya. Toh masalah hidup dan mati nantinya itu tetap keputusan Allah. Dan mumpung masih bisa menghirup udara segara, aku akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menikmati hidup dan tidak terlalu terlarut dalam kesedihan dan ketakutan. Karena sakit, sejatinya harus tetap disyukuri sebagai bentuk kasih sayang Tuhan. Dan karena sakit juga bisa sebagai jalan penggugur dosa.

    BalasHapus
  17. Nama: Eris Andriani
    Twitter: @RizAnNie88
    Jawaban:
    Pertama" aku berdoa agar kita semua selalu diberi kesehatan dan perlindungan dari Allah amin.

    Lahir, tua, sakit, dan mati. Adalah siklus kehidupan yg harus dilalui oleh semua mahluk hidup di dunia ini.
    Jika dokter sudah memvonis seperti itu maka yg aku lakukan adalah pasrah. Hal sepenting ini keluarga juga harus tau. Karena ini adalah hal serius yg tidak seharusnya ditutup.tutupi.
    Aku akan menerima semuanya dengan lapang dada, mungkin ini adalah suatu cobaan dari Allah dimana Allah ingin mengingatkan ku bahwa tidak selamanya bisa sehat. Dan mengingatkan ku bahwa mungkin aku belum bersyukur atas nikmat dari-Nya.
    Selain berpasrah diri, aku akan berusaha untuk sembuh dan berobat. Allah menyukai orang.orang yg mau berusaha.
    Tetap sabar, berusaha sebaik mungkin, berdoa, dan melakukan hal.hal positif yg lebih baik lagi untuk kedepannya.Tidak ada yg tidak mungkin bagi Allah, Allah tau yg terbaik untuk kita. Dengan kuasaNya hal yg tidak mungkin pasti bisa menjadi mungkin. Asalkan tetap yakin, berusaha, dan percaya kepada rencana Allah.

    Terima kasih wish me luck ^_^

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Nama: Fuja Sagita
    Twitter: @fujasagita_45

    "Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami sakit
    keras/parah?"

    Reaksi yang pertama yaitu mata melotot, memegang dada karena jantung berdegup lebih cepat, mulut yang terkatup jadi terbuka secara refleks karena terkejut. Ya, Terkejut dan tak percaya. Bahkan, saya akan terus menanyakan berulang kali pada dokter apakah vonisannya benar, atau keliru, atau mungkin tertukar dengan orang lain? Tak bisa mempercayainya dengan cepat, karena saya yang merasa diri sehat, tiba-tiba divonis seperti itu. Pasti tak percaya, apalagi kalau saya tidak menyadari gejala-gejalnya. Tapi kalau dokter sudah meyakinkan dengan seyakin-yakinnya, maka saya akan percaya akan vonisannya. Dan selanjutnya yang terbayang dan terpikirkan oleh saya yaitu mati atau hidup lebih lama lagi. Dari sini saya akan memikirkan dua hal itu. Dan, kalau seandainya waktu yang tersisa untuk saya sebentar lagi. Pasti yang dipikirkan adalah menghabiskan waktu dengan hal bermanfaat, dan mengerjakan sesuatu yang belum tercapai sebelum kematian berkata 'inilah saatnya'.

    :)Senyum harapan :)

    BalasHapus
  20. Nama: Junita Eka Lestari
    Twitter: @junitaaels


    Pertanyaan:
    Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?

    Reaksi ku:
    Pertama, pasti syok, tidak percaya, menganggap semua ini hanyalah delusi semata. Kemudian, aku akan diam. Diam karena aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bukan orang yang mudah meluapkan emosi, walaupun sebenarnya aku tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin, aku baru akan menangis atau marah sejadi-jadinya ketika sudah mencapai puncaknya, saat aku benar-benar merasa 'sakit'.
    Setelahnya, aku akan mencoba untuk menerima semuanya. Tentunya, aku semakin mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa; meminta ampun atas segala dosa yang sudah kuperbuat, memanjatkan do'a untuk kebahagiaanku dan orang-orang sekitarku, juga memohon kesembuhanku-jika-memang-bisa, karena do'a dapat mengubah segalanya, benar kan?
    Dan yang pasti akan ku lakukan adalah meminta maaf dan memaafkan-- kesalahan yang kuperbuat dan diperbuat prang lain padaku. Setelahnya, aku hanya perlu bahagia. Aku akan menjadi berguna. Aku akan membahagiakan diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku dengan tenaga, waktu, dan usaha yang ku punya--meski mungkin nantinya tidak semua bisa tercapai.
    Tapi,
    sekali lagi, aku hanya perlu bahagia.

    BalasHapus
  21. Nama : Daivara Rezuki Wijaya
    Akun Twitter : @aulyarzky

    Sebenernya agak bingung mau jawab pertanyaan yang ini 😩 aku bukan orang yang sehat seperti orang lain, aku juga pernah di vonis seorang dokter mengenai suatu penyakit yang sudah di deritaku sejak kecil. Awalnya aku tak mengerti apa yang pria berjas putih itu katakan namun semakin bertambah dewasa, aku mulai mengerti. Dulu aku hanya bingung dengan perkataan dokter itu dan katanya aku ga bakal bisa sembuh. Tapi setelah mengerti aku hanya bisa tertawa karena buktinya aku masih hidup sampai sekarang tapi gatau besok sih πŸ˜† jadi gini, berdasarkan pengalamanku, harusnya kita bersyukur dan enjoy aja sama penyakit kita. Life must go on, right? Lagian dokter kan manusia, dia juga bisa khilaf dan belum tentu prediksinya benar kan? Mungkin Allah memberikan kita penyakit agar kita segera taubat dan berbuat lebih baik. Gausah stress mikirin penyakit, tinggal jalanin, nikmatin sisa-sisa hidup kita. Orang sehat aja pasti bakal meninggal tapi orang sakit belum tentu duluan. Jadi kalau ada dokter yang memvonis mengenai penyakit kita apalagi memvonis umur kita, kalian bisa tertawa sekeras-kerasnya. Kalau bisa di depan wajah dokternya. Karena menurutku seharusnya seorang dokter itu tak memberitahukan seberapa lama kita akan bertahan dengan suatu penyakit karena heeeyyy, bisa aja si pasien langsung down kan? Untung dulu aku masih kecil jadi gatau apa-apa. Dokter yang baik itu seharusnya memberikan motivasi, masukan, dan semangat agar pasiennya punya semangat hidup. Tapi kalau memvonisnya hanya muntahber, flu, demam dan penyakit ringan lainnya, jangan ketawa di depan muka si dokter yaa-_-

    BalasHapus
  22. nama:Mariyam
    twitter: @mariyam_elf

    tentu terkejut dan shock, atau mungkin bisa pingsan. tapi semua itu tak ada gunanya, yang terpenting adfalah cara kita menyikapinya. setelah mengetahui sebuah penyakit, aku akan melakukan yang terbaik agar bisa sembuh.

    BalasHapus
  23. nama:Mariyam
    twitter: @mariyam_elf

    tentu terkejut dan shock, atau mungkin bisa pingsan. tapi semua itu tak ada gunanya, yang terpenting adfalah cara kita menyikapinya. setelah mengetahui sebuah penyakit, aku akan melakukan yang terbaik agar bisa sembuh.

    BalasHapus
  24. Nama : Tasya
    Akun twitter : @tasyaamanda95

    Reaksi awal pasti kaget bercampur sedih. Setelah lebih tenang, aku akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, keluarga dan teman-teman.
    Melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan yang sebelum tidak dapat aku lakukan. Banyak berbuat kebaikan kepada sesama. Dan insya allah tidak akan terpuruk dengan vonis yang diberikan oleh dokter. Harus tetap semangat untuk sehat kembali.

    Terima kasih

    BalasHapus
  25. Nama : Naning Pratiwi
    Twitter : @chelseas_lovers

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Yang jelas shock berat. Mungkin mulut menganga lebar dibareni kedua tangan yang segera menutup mulut. Atau, bisa kehilangan keseimbangan (Saat berdiri) dan segera butuh pegangan untuk menyangga tubuh :D :D

    BalasHapus
  26. Nama : Amilah Rahmatunnisa
    Twitter : @RnMilaa
    GFC : Mila Rhmatunnisa

    Halooo fikriah izin ikut giveawaynya yaa ^_^

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Yang pertama kali aku ucapkan adalah "Innalilahi". Karena siapa yang tidak kaget dan sedih mendengar kabar duka seperti itu. Mungkin aku akan menangis dan merenungi penyakit ini terlebih dahulu sebelum ikhlas menerimanya.Karena, mau berontak pun tidak bisa jadi aku hanya bisa menangis untuk mengekspresikan kekhawatiran, ketakutan dan kesakitanku. Aku takut aku tidak bisa melihat orang tuaku lagi, aku takut tidak bisa melihat Adik dan kakakku lagi. Aku takut tidak bisa melihat wajah sahabat-sahabatku lagi dan aku takut tidak bisa melihat dirinya yang mencintaiku. Menurutku mendengar kabar seperti itu merupakan cobaan terbesar dalam hidupku. Banyak yang bilang orang yang sakit parah masih memiliki harapan untuk sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Tapi nyatanya dalam dunia medis & kedokteran, kemungkinannya hanya 2 yaitu adanya keajaiban dan kematian. Aku tidak takut akan kematian, karena semua yang hidup pasti akan mati. Hanya saja aku takut membuat orang-orang terdekatku bersedih dan belum bisa menerima kepergianku. Saat di rumah sakit sebetulnya aku sudah menyerahkan keputusan seluruhnya pada Allah SWT. Biar Allah yang memutuskan bagaimana takdirku. Tentu saja ketika aku sudah berusaha untuk sembuh dan berjuang mati-matian untuk menghilangkan penyakit itu, semua kukembalikan padanya. Karena dialah yang memegang kekuatan penuh akan diriku. Aku berterima kasih pada orang-orang yang senantiasa memberikanku semangat untuk bisa sembuh. Tanpa mereka mungkin aku tidak akan pernah mencoba untuk sembuh dan pasrah akan keadaan ini. Aku sulit membedakan apakah penyakit ini adalah kesalah manusia sepertiku yang kurang menjaga kesehatan ataukah ini murni takdir dan rencana Allah? Aku seakan berkaca pada diriku sendiri. Di luar sana juga banyak orang yang sedang berjuang untuk hidup. Contohnya adalah Anak-anak kecil yang menderita kanker? Bahkan mereka masih bisa tertawa,tersenyum dan gembira di saat kondisi mereka semakin lemah dan tak berdaya. Aku juga harus seperti mereka, karena selagi kita masih di beri kesempatan untuk hidup, kita harus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Jangan jadi manusia yang tidak bersyukur dan menyalahkan Tuhan. Karena sungguh keputusan dan takdirnya adalah yang terindah. Ketika kita sakit pun, kita bisa melihat mana orang-orang yang memang mencintai dan menyayangi kita dengan tulus. Mana orang yang hanya kasihan dan tidak tulus pada kita. Kita akan bisa membedakan sifat-sifat manusia seperti itu. Tulus atau tidaknya akan terlihat dari sorotan mata mereka saat melihatku terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Jika dibilang marah atau kesal dengan penyakit ini tentu saja! Manusia mana yang di beri penyakit malah bergembira? Tapi itulah hidup terkadang orang-orang yang hebat adalah orang yang bangkit dari keterpurukan. Banyak yang ingin aku raih di masa mudaku, banyak yang ingin aku lakukan. Salah satunya adalah membuat karya yang bisa di baca semua orang. Tapi jika memang hidupku harus berakhir di rumah sakit dan hanya bisa menunggu takdir yang sudah Allah gariskan, aku akan menerimanya. Aku akan tersenyum meski pahit, aku akan bahagia meski hati teriris. Alangkah baiknya jika di kondisiku yang seperti ini aku masih bisa melakukan kebaikan. Aku ingin memberikan semangat pada pasien-pasien di rumah sakit yang menderita penyakit parah sepertiku, untuk tetap bahagia dan berpikir positive. Mengingatkan pada mereka untuk tidak menyerah dan selalu berdoa pada Allah untuk di beri kesembuhan karena kekuatan doa itu maha dahsyat. Sesungguhnya sakit akan menggugurkan dosa-dosa kita yang telah lalu. Aku selalu ingat bahwa hidup itu anugerah. Jadi aku harus semangat menjalaninnya apapun kondisinya ^-^

    Wish Me Luck
    terimakasih giveawanya kak kezia & fikriah ^^

    BalasHapus
  27. Ketika dokter memvonis saya dengan penyakit parah, reaksi awal saya yang akan muncul pasti panik. "Saya tidak apa-apa, kan? Saya akan baik-baik saja, kan?". Saya rasa, itulah yang akan saya katakan pada dokter itu. Saya masih muda dan ada banyak hal yang ingin saya capai dalam hidup, sebelum gerak langkah saya terbatas karena penyakit parah. Apalagi jika penyakit itu mematikan. Saya akan meminta penjelasan dokter sedetil mungkin mengenai penyakit saya, lalu meminta saran terbaik untuk dilakukan. Dan saya akan berjuang keras untuk menjalani pengobatan. Seburuk apa pun hasilnya nanti, setidaknya saya menghadapi penyakit saya dengan berani. Saya akan berusaha bersikap tenang dan berpikiran positif. Sebuah nasehat tua mengatakan, pikirkanlah yang baik-baik saja, agar itulah yang terjadi dalam hidupmu.

    Nama: NM Rayanti Sari Dewi
    Akun twitter: @biblionervosa

    BalasHapus
  28. Nama: Lala
    Akun Twitter: @fazidaa_

    Pasti aku akan meratapi diriku terus-menerus, menangis tiada henti, merasa aku-lah orang paling malang di dunia. "Kenapa harus aku? Salah aku apa?" Barangkali itu dua kalimat yang paling sering kuucapkan. Aku akan bersembunyi dari dunia, supaya mereka nggak mengasihaniku, karena percayalah, tatapan iba mereka hanya akan membuatku jatuh lebih dalam. Hei, siapa sih yang nggak terpukul jika mendapat kabar dirinya mengalami sakit parah? Apa lagi sakitnya itu yang sudah memakan banyak korban di dunia. Semakin frustasi, semakin nggak ada harapan untuk hidup lagi.

    Tapi seiring kasih sayang yang diberikan oleh orang-orang terdekatku, mungkin akan menyadarkanku, kalau aku masih punya mereka; orang-orang yang harus kubuat bahagia dan akan berharap atas kesembuhanku. Jika memang vonis dokter membuatku harapan hidupku nggak lagi panjang, aku akan menggunakan waktuku itu untuk melakukan apapun yang menjadi impianku, melakukan apapun serasa aku dapat hidup lebih lama. Meraih apapun yang bisa kuraih; hingga orang-orang disekitarku akan bangga padaku. Supaya orang-orang melihat semangatku, supaya mereka terus mendoakanku agar tetap berada disamping mereka.

    Jika itu akan membuat sakitku lebih parah lagi, biarlah, karena semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Pasrahkan saja, dengan tetap berusaha untuk mencapai kesembuhan. Mungkin saja itu belum waktuku, lalu Tuhan akan berbaik hati menyembuhkan penyakitku. Kalaupun yang terjadi malah sebaliknya, setidaknya aku sudah menggunakan sisa waktuku semaksimal mungkin untuk melakukan hal-hal berharga, sehingga aku nggak akan menyesal nantinya; jika hanya duduk diam meratapi nasib. Hidup hanya sekali, tapi sekali akan cukup jika kamu melakukan yang terbaik.

    BalasHapus
  29. Nama : Mega Widyawati
    Twitter : @widy4_w

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Apa yang bisa dilakukan selain Terjejut dan sangat terpukul. Yah hanya dua kata yang menjadi gambaran reaksiku.
    Terkejut...bagaimana tidak terkejut bila kita yang selalu menggambarkan betapa ingin sekali menikmati hidup lebih lama dengan memiliki umur panjang, kesehatan, bersenang-senang, namun tiba-tiba takdir tak mau diajak kompromi.
    Sangat Terpukul...adalah perasaan dimana kita sangat tidak rela meninggalkan orang tersayang bila penyakit itu melekat tak mau lepas, terpukul sebab "your dreams" yang telah di direncanakan harus tertinggalkan bagai harapan tak terwujud.
    Dan
    dalam pikiranmu sebab di vonis penyakit parah itu, selalu terbayangkan cara-cara untuk menambah amal ibadah kita, mengepolkan beberapa amalan kebaikan, demi berjaga-jaga bila sewaktu-waktu menutup usia...siapalah takdir yang mengetahui selain maha pencipta.

    BalasHapus
  30. Nama: Daisy
    Akun Twitter: @Daisy_Skys


    "Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami sakit keras/parah?"


    " Dokter priksa lagi deh , apa bener itu data saya "
    "oh itu beneran saya ya "
    Rasanya dunia berhenti berputar , Seakan - akan oksigen yang kuhirup tidak ada lagi .Sesak . Dan air mata mengalir begitu saja . Dan aku menangis sesenggukan . Dunia jadi terasa dingin dengan warna hitam putih . Kenapa harus aku ? Seberapa besar dosaku ? Apakah aku pernah menyakiti orang lain ? Kenapa bukan orang lain saja ? Apa mungkin Tuhan membenciku ? .Itulah aku awalnya Muncul rasa kekecewaan terhadap Tuhan .Manusiawi bukan ?

    Tapi seiring berjalannya waktu aku akan menerimanya . Siapa sih yang bisa menghindari takdir ? Tak seorang pun ! Bukan berarti hidup telah berakhir kan ? inilah awal untuk jadi lebih baik .Aku akan menjalaninya dengan gagah berani . Aku akan melakukan pengobatan medis dan kalau perlu pengobatan alternatif , berusaha sekuat tenaga demi kesembuhan .

    Dan aku tahu kok diluar sana banyak orang - orang dengan sakit yang lebih parah .Kenapa harus berputus asa kalau masih mampu berusaha . Aku nggak akan bersedih , Aku nggak akan bertindak seakan - akan aku orang paling menderita didunia ini .Tuhan pasti punya rencana yang indah . Mungkin Ia ingin mendekatkanku dengannya melalui sakit ini , Atau ingin memperingatkanku untuk lebih taat lagi . Aku yakin bisa menjalani cobaannya. Jika kesakitan adalah penebus dosaku , baiklah sakit kuterima kehadiranmu .Tapi pergilah ketika Tuhan menyuruhmu pergi . Aku ikhlas .Aku akan menjalani hidupku dengan senyum lebar , Aku akan menari dalam hujanmu karena aku tahu life is not a Sonata . Lalu Tuhan akan memberiku pelangi cerah selepas kesakitan ini .Hidup dan matiku semata - mata hanya untuk sang pencipta .Aku percaya itu

    BalasHapus
  31. Nama: Aulia
    Twitter: @nunaalia

    "Apa reaksimu jika dokter memvonismu mengalami sakit keras/parah?"

    Jawaban:
    Pasti shock, sedih, bingung, takut... aku hanya memikirkan orang tua, dan biaya pengobatan sakit itu pastinya kan butuh dana yg banyak. Tapi semua harus dijalani kan? Toh sudah terjadi... Yang pasti tidak boleh putus asa, masih ada Tuhan yang akan selalu menolong hambaNya. Hidup di dunia pun hanya sementara, semua pasti akan kembali padaNya. Yang penting bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya, memperbanyak amal ibadah dan menebar kebaikan di dunia.

    Duh...pertanyaannya nyeremin nih! Jawabannya malah nggak fokus :p

    BalasHapus
  32. Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/684643645161537537

    Reaksi saya jika divonis mengalami sakit parah, saya jelas shock donk. Mungkin saat mendengar vonis itu serasa mendengar guntur di siang yang panas. Lutut saya akan lemas, kepala saya pusing dan jelas setelah itu, hidup saya akan berubah 360 derajat.Dan sama seperti reaksi Erika, saya akan langsung mempertanyakan kejadian yang menimpa saya kepada Tuhan. Tapi, bukan berarti saya menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpa saya. Tidak. Mungkin itu hanya bentuk kesedihan sementara. Mungkin untuk sementara saya akan menyembunyikan penyakit saya. Dan setelah saya benar-benar siap mengatakannya, baru saya akan memberitahukannya kepada keluarga saya. Hal itu saya lakukan untuk menghindari setiap pertanyaan yang akan diajukan. Karena terkadang, ketika kita memberitahu kenyataan, tak semua orang bisa menerima dengan tangan terbuka meskipun itu adalah penyakit.

    Terima kasih ^^

    BalasHapus
  33. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya

    Reaksiku?

    Kalau orang korea bilang mah λ©˜λΆ• (men-boong) kependekan dari λ©˜νƒˆ λΆ•κ·€ (mental boongkui) yang artinya mental breakdown. Semacam shock gitu. Siapa yang nggak kaget kalau divonis penyakit parah yang--kemungkinan besar--artinya bentar lagi bakal gali tanah? (´•_•`)

    Setelah men-boong itu, reaksiku selanjutnya adalah langsung menghubungi seluruh kolegaku yang bisa kuhubungi, untuk menanyakan apa aku masih punya utang yang belum dibayar? Soalnya aku nggak mau mati nanti pintu surganya masih ditrali gara-gara gemboknya ada di orang yang masih aku utangin. (´._.`)

    BalasHapus
  34. nama : EMMA
    akun twitter : @EmmaNoer22

    "Apa reaksimu jika dokter
    memvonismu mengalami
    sakit keras/parah?"

    jawaban: pertama mungkin aku akan biasa saja menghadapi hal seperti itu, karena memang aku pribadi tipe yg nggak panikan meski diri sendiri yg di vonis sakit parah, kalau menghadapi semacam itu saat tubuhku masih terlihat sehat dan nggak merasa sakit, tapi akan beda kondisi dimana gejala penyakitku udah aku rasakan gimana bukan main rasa sakitnya sebelum doktei menjatuhkan vonisnya, aku bakal nangis tentu saja, menangis karena rasa sakit yg aku rasakan, bukan karena vonis dokter. Jadi ketika aku di vonis misal punya penyakit gula darah, ini penyakit yg bener2 nggak kerasa awalnya. Cuman kl udah parah itu hidup susah banget rasanya makan ini itu nggak boleh, luka nggak sembuh. Tapi kalau dokter memvonis ini tahap masih gejala, aku bakal mulai hidup dg sehat, menjalaninya dengan tetap bersyukur. Mulai berhati-hati dengan hal-hal yg menyebabkan penyakit itu lebih menyebar/lebih parah lagi. Sering-sering chekup dan periksa ke dokter, aku juga nggak takut jarum dan alat bedah. Asal bisa sehat lagi apapun insya'allah bakal aku jalani.

    Ada cerita ini tentang mama-ku, beliau di vonis punya kanker leher jinak 2 tahun lalu, ini mama-ku orangnya panikan jadi setelah dinyatakan penyakitnya sama dokter beliau disarankan utk melakukan operasi, tapi karena takut operasi, sampai 1tahun lebih beliau cuman minum obat dan terapi. Pada akhirnya penyakitnya tetap saja nggak hilang dan memutuskan utk operasi, mungkin aku sebagai anak dan sebagai manusia bisa dikatakan nggak peka, jadi sebelum operasi saat masih dirumah mama-ku udah takut-takut dan kelihat tertekan, aku melihat beliau seperti itu dengan sikap biasa saja, dan selama mama-ku operasi pun aku nggak ngerasa khawatir atau apapun, masih berangkat kerja dan beraktifitas. Aku cuman beberapa kali berdoa semoga operasinya lancar. Dan alhamdulillah operasi lancar dan mama-ku sekarang sehat dan nggak ada masalah dg suara atau pita suaranya.

    Jadi intinya sih mau dokter memvonis aku punya penyakit apapun aku mungkin akan tetap tenang, cuman beda soal kalau aku sudah merasakan sendiri rasa sakitnya penyakit itu, soalnya aku nggak tahan sakit. Cuman aku tahan di suntik, ataupun di operasi. Karena di suntik rasanya cuman sebentar, di operasi kita diberi obat bius. Beda soal kl sakitnya sudah dirasakan.

    BalasHapus
  35. Nama : Meilina Istanti
    Akun twitter : @meic_chan

    Reaksi pertama sih kaget (kalo aku gak tau ada tanda-tandanya) + takut.
    Reaksi kedua, memastikan kalo vonis itu kenyataan. Jangan-jangan cuma mimpi kan #eh #nepukpipi
    Reaksi ketiga, mencoba kuat. Bersabar & ikhlas atas segala sesuatunya. Khuznudzon sama Allah, yakin kalo sakit parah itu cobaan yg harus aku hadapi. Kan penyakit menggugurkan dosa-dosa kita. So, la tahzan :) senyumin aja.

    BalasHapus
  36. Nama: Leny
    Twitter: @Lenny66677291
    pertama pasti kaget, shock, tapi aku akan berusaha tegar, ikhlas menerima semuanya, dan yang pasti tetap tersenyum serta tdk akan kehilangan senyuman itu. Apalagi senyuman untuk orang2 tersayang dan berusaha tdk menunjukkan kesedihan di depan mereka.

    BalasHapus
  37. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta

    Kalau misal divonis menderita penyakit serius *semoga dijauhkan* ya pasti aku akan shock, kaget mungkin juga sampai nangis. Berkali-kali pasti aku akan nanya, kenapa harus aku, kenapa dengan diriku, dan kenapa-kenapa lainnya. Ya, pada detik itu pasti aku menyalahkan keadaan, mengatakan bahwa ini semua tidak adil. Ya, semuanya respon emosional aja sih. Tapi tindakan itu tidak akan mengangkat penyakitku.
    Aku akan berkonsultasi mengenai penanganan dan berusaha melakukan tindakan itu sesegera mungkin. Dan meminta penyakitku dirahasiakan.
    Dukungan dari orang terdekat sangat diperlukan, dalam keadaan seperti ini aku pasti akan memberi tahu keluarga intiku. Bagaimanapun juga mereka tetap harus tau keadaanku, meski harus dijelaskan dengan kalimat yang tidak membuat mereka terkejut juga.

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS